
Pada suatu hari di Kota Madinah, di akhir bulan Syakban, Baginda Nabi Muhammad SAW menyampaikan tausiah dialogis kepada para sahabat tentang keutamaan bulan Ramadan.
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan magfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini napas-napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah.
Wahai manusia, barang siapa di antara kamu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.”
Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan, “Jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan seteguk air. Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, ia akan berhasil melewati titian pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.
Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari ia akan berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambung silaturahmi di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia akan berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barang siapa memperbanyak salawat di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan yang lain ringan. Barang siapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Qur’an, sama nilainya dengan mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan yang lain.
Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar Ia tidak akan pernah menutupkannya lagi. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonkan kepada Tuhanmu agar Ia tidak pernah membukanya bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka bermohonlah agar mereka tidak lagi menguasaimu.”
Ali bin Abi Thalib bertanya, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling utama?”
Jawab Nabi SAW, “Al-wara’ ‘an maharimillah.” Maksudnya adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah. (Demikian riwayat dari kitab Nahj al-Balaghah yang dihimpun oleh Sayyid Syarif Radhi).
Sungguh, menghindarkan diri dari dosa mesti didahulukan dari berbuat baik. Menjauhkan diri dari laku maksiat dan mendatangkan manfaat untuk sesama dengan tidak menghadirkan bagi mereka sesuatu yang buruk dari diri kita, dengan sendirinya adalah sebuah kebaikan. Ruh atau jiwa memproteksi diri dari anasir dosa dengan mempererat hubungan dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan demikian, jadilah bulan Ramadan sebuah pembelajaran ruhaniah.
Seakan seperti seorang tamu, maka kita memelihara keberadaan diri di hadapan tuan rumah. Kita menikmati jamuan, tetapi yang kita hadirkan adalah keridaan tuan rumah. Kita tidak berbuat sesuatu apa pun yang akan menyakiti, menyinggung, atau mendatangkan ketidaknyamanan bagi tuan rumah. Inilah adab bertamu yang baik.
Alkisah, ada ayah dan anak menempuh perjalanan di padang pasir. Di satu tempat, ayah itu jatuh sakit dan meninggal dunia. Anaknya berusaha mencari bantuan, tak dapat ia temukan, kecuali seorang gembala dengan sekawanan ternaknya. Mereka pun memandikan dan menggali kuburnya.
“Bisakah kau menyalatkannya?” tanya anak itu kepada gembala.
“Tentu saja.”
Lalu gembala itu pun mengangkat tangannya dan berdoa. “Selesai,” katanya.
Anak itu terkejut. “Salat jenazah seperti apa ini? Tidak benar sama sekali. Tidak pernah Nabi SAW mencontohkan seperti yang kau lakukan ini. Kau mengada-ada dalam ibadah, kau sesat. Pergilah engkau ke sana.” Lalu ia pun menyalatkannya seorang diri.
Malam hari, anak itu bermimpi. Ayahnya berbalutkan pakaian yang sangat indah, tampak bersinar berseri-seri. Ia bertanya, “Gerangan apa yang ayah lakukan hingga beroleh kemuliaan ini?” Ayahnya menjawab, “Semua yang aku terima adalah karena gembala itu.”
Ia terbangun. Pagi masih menyisakan gelap ketika ia mencari gembala itu. Ketika akhirnya berjumpa, dengan segera ia bertanya, “Apa yang kau lakukan dalam salatmu yang bid’ah itu?”
Sang gembala lusuh menjawab, “Aku hanya berdoa: ‘Ya Allah, sekiranya orang di hadapanku ini masih hidup, tentulah ia akan menjadi tamuku dan aku akan sembelih seekor kambing untuk menghormatinya. Tetapi kini ia telah menjadi tamu-Mu. Pastilah Engkau memberikan penerimaan yang sebaik-baiknya untuknya.’ Selesai.”
Anak itu tersungkur luluh. Sungguh, tak boleh ia merasa diri paling sunnah dari orang lain.
Demikianlah. Doa yang tulus dan menjaga diri dari dosa adalah hidangan teristimewa dan adab yang mesti dipelihara di bulan suci lagi mulia ini. Tak boleh kita merasa diri lebih sahih dalam berpuasa dibanding yang lainnya. Maka jadilah sebulan penuh bulan Ramadan sebuah madrasah ruhaniah. Ruh beristirahat dengan menjaga diri dari dosa, memperkuat hubungan dengan Sang Maha Kasih, Maha Segala.
Adab utama puasa adalah mendatangkan manfaat untuk sesama dengan tidak mendatangkan bagi mereka sesuatu yang buruk dari diri kita, bahkan bagi diri kita sendiri. Inilah tantangannya.
Melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan adalah salah satu kewajiban yang terdapat dalam rukun Islam. Puasa Ramadan merupakan salah satu sarana bagi hamba yang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla demi meraih derajat takwa.
Berpuasa di bulan Ramadan menjadikan kemurnian iman serta ketaatan seseorang terhadap Al-Khaliq semakin nyata. Oleh karena itu, Allah akan meridai para saimin. Demi memperoleh keridaan Allah, seyogianya kita berupaya dengan sungguh meningkatkan kualitas ibadah puasa dan kepedulian sosial di bulan suci ini dari masa sebelumnya, di antaranya dengan memperhatikan dan mengamalkan etika, sikap, adab, atau tata krama yang baik dalam berpuasa, dalam terminologi populer sebagaimana dikatakan oleh Syekh Sayyid Sabiq disebut dengan istilah sunnah puasa Ramadan.
Di antara sunnah tersebut adalah:
1. Makan Sahur
Yang dimaksud dengan makan sahur adalah santap dini hari bagi yang akan menjalankan ibadah puasa. Waktu sebelum fajar dinamakan sahur atau sahr karena saat itu gelap dan sunyi sehingga banyak hal yang tersembunyi. Sahur diartikan pula dengan saat-saat sebelum fajar. Hakikat sahur adalah bangun dan makan sebelum fajar. Waktu makan sahur terhitung sejak pertengahan malam hingga terbit fajar. Makan sahur terlaksana dengan cara memakan makanan atau meminum minuman, meski hanya sesuap nasi dan seteguk air. Menurut jumhur ulama, makan sahur hukumnya sunah karena di dalamnya terdapat berkah dan disunahkan bersahur di akhir waktu. Walau demikian, jika tidak bersahur puasanya tetap sah.
Hal itu didasarkan pada hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i: “Sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kamu meninggalkannya walaupun salah seorang di antara kalian meneguk satu tegukan air, karena Allah dan para malaikat-Nya mendoakan orang-orang yang sahur.”
Diriwayatkan oleh At-Tabrani, Nabi SAW bersabda: “Ada tiga hal akhlak Rasul yang tidak kalah pentingnya untuk diteladani, yaitu menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam salat.”
Makan sahur memang membawa berkah tersendiri bagi para saimin karena berdampak pada kekuatan fisik di siang hari dan memperoleh pahala di sisi Allah SWT, karena makan sahur itu sendiri merupakan ibadah yang diperintahkan oleh Nabi SAW. Selain itu, makan sahur dipandang sebagai suatu hal yang membedakan antara puasa umat Islam dan puasa ahli kitab.
2. Menyegerakan berbuka puasa
Jika waktu berbuka puasa telah tiba, disunatkan dilakukan dengan segera, diiringi dengan mengonsumsi buah kurma atau air, lalu melaksanakan salat Magrib. Apabila salat telah usai, hendaknya memakan makanan besar. Ketentuan tersebut diperkuat beberapa hadis Rasulullah SAW.
Beliau bersabda: “Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari Muslim).
Hadis lain menginformasikan: “Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah berbuka dengan kurma. Jika ia tidak menemukan kurma, hendaklah berbuka dengan air, karena air adalah suci.” (HR Abu Dawud).
Hadis lainnya juga menginformasikan: “Jika makanan telah disediakan, makanlah makanan itu sebelum kamu melaksanakan salat Magrib, dan janganlah tergesa-gesa dalam menyantapnya.” (HR Bukhari Muslim).
3. Berdoa ketika berbuka dan berpuasa
Setelah sehari suntuk berpantang diri dari makan, minum, dan hawa nafsu, tentunya keinginan untuk makan sungguh begitu terasa. Karenanya, saat berbuka puasa adalah saat yang sangat menyenangkan. Terasa benar betapa beruntung dan bahagianya saat menikmati santap berbuka puasa.
Nabi SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memperoleh dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berhadapan dengan Allah.” (HR Muslim).
Di samping itu, di antara waktu mustajab dalam berdoa adalah saat berbuka puasa Ramadan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: (1) orang yang berpuasa hingga ia berbuka; (2) pemimpin yang adil; (3) orang yang dizalimi.” (HR Ibnu Majah).
Sedangkan doa yang sering diucapkan oleh Baginda Nabi SAW saat berbuka puasa adalah: “Dahaga telah berlalu, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.” (HR Abu Dawud); “Ya Allah, sungguh aku berpuasa hanya untuk-Mu, dan aku berbuka dengan rezeki-Mu.” (HR Abu Dawud).
Salah satu syarat tidak tertolaknya doa saat berbuka puasa adalah bahwa makanan yang dikonsumsi 100% halal dan tayyib.
4. Menahan diri dari hal yang bertentangan dengan puasa
Sejatinya, puasa bukan hanya menahan diri dari syahwat seks dan syahwat perut, serta menahan diri dari perkataan-perkataan tak berguna semata, namun termasuk juga di dalamnya menahan diri dari segala perbuatan yang dapat menodai kesucian ibadah puasa itu sendiri, seperti keinginan untuk memuaskan kesenangan-kesenangan fisik dengan berperilaku konsumtif/konsumerisme.
Karena puasa adalah ibadah yang paling utama yang disyariatkan untuk menyucikan jiwa demi mencapai derajat takwa (QS. 2:183).
Nabi SAW bersabda: “Puasa bukan (hanya) menahan diri dari makan dan minum. Puasa adalah menahan diri dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor. Jika seseorang mencelamu atau bertindak bodoh terhadapmu, ucapkanlah, ‘Sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.’” (HR Ibnu Hibban).
Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan mengamalkan ucapan dusta, Allah tidak akan menerima puasanya.” (HR Bukhari).
5. Bersiwak
Mulut adalah media untuk berbicara dan mengunyah makanan yang harus selalu dijaga tingkat kebersihan dan kesehatannya. Mulut yang bersih dan sehat akan menunjang keindahan fisik dan psikis.
Rasulullah SAW bersabda: “Kelak di surga, aroma mulut para saimin adalah harum seperti bau kasturi.”
Rasulullah SAW dalam kesehariannya, termasuk pada bulan Ramadan, sangat intens memelihara kebersihan gigi dan mulut dengan cara bersiwak. Karenanya, gigi dan mulut beliau selalu sehat, berseri, serta harum.
Kita disunatkan bersiwak mengikuti Baginda Nabi SAW. Di zaman modern ini metode bersiwak mengalami perubahan signifikan, dan tentunya kita mengikuti metode tersebut sesuai ketentuan fikih.
6. Banyak bersedekah dan tadarus Al-Qur’an
Dalam Islam, sedekah atau infak memiliki pengertian yang sangat luas, tidak terbatas pada jenis amal tertentu saja. Kaidah umumnya adalah bahwa setiap perbuatan baik bernilai sedekah.
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, orang yang paling berhak mendapat sedekah adalah anak, istri, pembantu, dan kerabat terdekat. Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa: “Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang wajib ia nafkahi.”
Abu Zar Al-Ghifari berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang wajib bersedekah untuk dirinya pada setiap hari.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dari mana aku bersedekah sementara aku tidak memiliki harta?”
Beliau menjawab: “Di antara pintu sedekah adalah membaca takbir, tasbih, tahmid, tahlil, istigfar; mencegah perbuatan mungkar; menyingkirkan duri, tulang, dan batu dari jalan manusia; membimbing orang buta; sabar menjelaskan kepada orang tuli dan orang bisu hingga paham; menunjukkan orang yang meminta petunjuk atas suatu kebutuhan yang telah kamu ketahui tempatnya; berjalan dengan kekuatan kedua kakimu untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan; dan membantu orang yang lemah dengan kekuatan kedua tanganmu untuk mengangkat sesuatu. Semua itu adalah bagian dari pintu-pintu sedekahmu untuk dirimu. Kamu dalam menggauli istrimu pun berhak mendapat pahala.” (HR Muslim).
Sedekah yang diberikan tersebut, baik berupa barang maupun jasa, hendaknya milik sendiri, berstatus halal, diserahkan secara patut, disertai niat ikhlas. Orang yang bersedekah dianjurkan untuk tidak menyebut-nyebut sedekahnya kepada orang yang ia sedekahi, tidak menyakiti hatinya, dan tidak pamer dengan sedekahnya itu (QS. 2:264).
Bagi yang menerima sedekah, seyogianya mengucapkan terima kasih disertai doa yang tulus untuk keberkahan pemberi sedekah.
Diinformasikan dari Asy’ats bin Qais bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Usamah bin Zaid juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mendapat suatu perlakuan yang baik lalu ia berkata atau berdoa kepada pelakunya, ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan,’ berarti ia telah memberikan pujian yang amat baik.” (HR Tirmizi).
Sebaliknya, dilarang menolak sedekah seseorang dengan sombong. Jika memang sedekah tersebut tidak diperlukan, berilah pengertian kepadanya dan tolak dengan santun, atau salurkan kembali kepada pihak atau lembaga yang memerlukannya.
Selain bersedekah, hendaknya disertai tadarus Al-Qur’an. Makna tadarus Al-Qur’an adalah membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Tadarus Al-Qur’an dengan cara demikian akan mendatangkan hikmah tersendiri dalam diri para saimin, di antaranya melahirkan rasa cinta dan kerinduan kepada Rabbul ‘Izzati, menghadirkan dalam diri sikap tawadhu, khusyuk, syukur, dan sabar, serta seluruh sifat dan perasaan yang dapat mengantarkan pada cinta dan rida Ilahi Rabbi (Ibnu Rajab: 114).
Al-Qur’an adalah kitab suci yang harus dibaca dan juga dipahami. Fakta menunjukkan banyak yang rajin membaca Al-Qur’an, namun masih sedikit keinginan untuk memahami isinya sehingga kurang bersemangat mengamalkannya.
Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman. Memang pada awalnya akan terasa sulit mencerna maksud terjemahan Al-Qur’an, namun jika kita sering membacanya, lama-kelamaan akan terasa mudah memahaminya.
Saat membaca Al-Qur’an, para sahabat mengutamakan pemahaman dan implementasi atau pengamalan. Ibnu Abbas RA berkata: “Kebiasaan kami, jika mempelajari sepuluh ayat Al-Qur’an, kami tidak akan melampauinya sebelum kami memahami secara benar maknanya dan mengamalkannya.” (HR At-Tabari dalam tafsirnya dengan sanad yang sahih).
Sementara kita lebih mengutamakan khatam ketimbang paham. Alangkah indahnya kalau kita sering khatam dan paham serta implementatif. Setelah paham, langsung diaplikasikan dalam kehidupan.
Anas RA mengatakan bahwa Abu Thalhah RA—seorang sahabat dari Anshar di Madinah—adalah orang yang banyak hartanya. Di antara harta yang paling disenanginya adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid. Bahkan Rasulullah SAW pernah singgah di kebun itu.
Ketika turun firman Allah yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai.” (QS. 3:92), Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah paham ayat itu. Maka harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma yang menghadap ke masjid. Untuk itu saksikanlah, demi Allah, aku sedekahkan kebun itu untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Maka silakan, ya Rasulullah, bagikan sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadamu.” (HR Bukhari Muslim).
7. Bersungguh-sungguh beribadah dalam sepuluh hari terakhir
Allah SWT berfirman: “... laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. 33:35)
Aisyah RA menceritakan bahwa: “Apabila sepuluh hari akhir bulan Ramadan tiba, Nabi SAW menghidupkan malam, membangunkan keluarga beliau, dan bersungguh-sungguh dalam bertakarrub kepada Allah.” (HR Bukhari Muslim)
Pada hadis lain diterangkan: “Sepuluh hari pertama Ramadan adalah rahmat, sepuluh hari kedua adalah magfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari api neraka.” (HR Bukhari)
“Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa (di siang hari), dan aku sunnahkan kalian begadang (di malam hari) untuk melakukan qiyamullail. Siapa yang berpuasa dan melakukan qiyamullail atas dasar keimanan dan penuh keikhlasan, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan ibunya.” (HR Ibnu Khuzaimah)
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan ingin memperoleh pahala, maka dosa-dosanya yang telah berlalu diampuni.” (HR Bukhari Muslim)
Dalil-dalil di atas mengisyaratkan kepada kita para saimin bahwa pada sepuluh hari akhir bulan Ramadan hendaknya kita, bersama seluruh keluarga, lebih intensif mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah mahdah seperti beri’tikaf dan qiyamullail, maupun melaksanakan ibadah sosial kemasyarakatan lainnya, seperti bergotong royong bersih-bersih di lingkungan masjid dan tempat tinggal, bersedekah, atau menolong mereka yang berkesusahan, dengan harapan dan keyakinan penuh bahwa Allah SWT akan mengampuni semua dosa yang telah lalu, memberikan rahmat dan pahala yang besar, serta membebaskan kita semua dari azab neraka.
Kita sering mendengar cerita dari para orang tua bahwa pada zaman dahulu banyak orang berdoa memohon kepada Allah supaya jika dipanggil menghadap-Nya hendaknya pada saat akhir Ramadan dan/atau pasca menunaikan ibadah haji di Padang Arafah. Karena pada kedua saat tersebut jiwa manusia telah disucikan kembali oleh Allah SWT sebagaimana bayi yang baru dilahirkan ke dunia. Karena hamba yang berstatus suci saat menghadap Ilahi Rabbi termasuk anggota jamaah surga firdausi. Wallahu a‘lam.
*) By Al Faqir Amrullah
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Dusun Selatan
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan.
Terima kasih untuk trust, sinergi, dan ketulusan persaudaraan.
Mohon ampun, maaf, dan rida atas segala kealfaan.
Salam takzim untuk dangsanak sejawat di Kemenag dan instansi lainnya.
Ulun izin surut.
Bagikan Halaman Ini