
Masyhur dalam dunia sufi riwayat berikut. Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak punya uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut penuh keikhlasan, hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang hari ia mengembalakan ternaknya melewati lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya kepada Tuhan yang dicintainya.
“Duhai pangeran tercinta, dimanakah Engkau, supaya aku bisa mempersembahkan seluruh hidupku kepadaMu. Dimanakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku kepadaMu. Wahai Tuhan, untukMu aku hidup dan bernapas. Karena berkatMu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku kehadapan kemuliaanMu”.
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanannya menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk ditengah ternaknya dengan kepala mendongak kelangit.
Sang gembala menyapa Tuhan,
“Ah, dimanakah Engkau, supaya aku bisa menjahit bajuMu, memperbaiki kasutMu, dan mempersiapkan ranjangMu. Dimanakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambutMu dan mencium kakimu. Dimanakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatuMu dan membawakan susu untuk minumMu”.
Musa as mendekati gembala itu seraya bertanya,
“Dengan siapa kamu berbicara?”.
Gembala menjawab,
“Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang malam, bumi dan langit”.
Musa as murka mendengar jawaban gembala itu.
“Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu, apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosamu”.
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang Nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa as terus berkata,
“Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki?. Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Dia tumbuh besar?. Tentu saja tidak. Tuhan maha sempurna didalam diriNya. Tuhan tidak memerlukan siapapun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat”.
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tidak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapapun. Dia hampir tak bisa menahan tangisnya.
Dia berkata kepada Musa as,
“Kau telah menyalakan api dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya”.
Dengan keluhan yang panjang, dia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa as melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba tiba Allah yang maha kuasa menegurnya dengan firman,
“Mengapa engkau berdiri diantara Kami dengan kekasih Kami yang setia?. Mengapa engkau pisahkan pencinta dari yang dicintainya?. Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan diantaranya”.
Musa as menyimak firman itu dengan penuh kerendahan dan rasa takut. Allah berfirman,
“Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang orang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa didalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar tak berharga. Kami tidak memerlukan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna”.
Suara dari langit selanjutnya berkata,
“Mereka yang terikat dengan basa basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri”.
Tuhan kemudian mengajarkan Musa as rahasia cinta. Setelah Musa as memperoleh pelajaran itu, dia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun menderita penyesalan yang luar biasa.
Dengan segera, dia berlari mencari gembala itu untuk meminta maaf. Berhari hari Musa as berkelana dipadang rumput dan gurun pasir, menanyakan kepada orang orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeza.
Hampir hampir Musa as kehilangan harapan, tetapi akhirnya Musa as berjumpa dengan gembala itu. Dia tengah duduk didekat mata air, pakaiannya compang camping, rambutnya kusut masai, ia berada ditengah tafakur yang dalam sehingga tidak memerhatikan Musa as yang telah menunggunya cukup lama.
Akhirnya, gembala itu mengangkat kepala dan melihat kepada sang Nabi. Musa as berkata,
“Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah jika kita ingin berbicara kepadaNya, kamu bebas berbicara kepadaNya dengan cara apapun yang kamu sukai, dengan kata-kata apapun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia”.
Sang gembala hanya menjawab sederhana,
“Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiranNya. Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu, dan kata-katapun tak bisa melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku”.
Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa as. Nabi Musa as menatap gembala itu hingga tak terlihat lagi. Setelah itu Musa as kembali berjalan kekota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Riwayat tersebut melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakan cintanya kepada Tuhan, dia tidak lagi bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan seluruh cintanya kepada Allah swt. Memang, di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak bermakna.
Disamping itu, dalam Islam dikatakan bahwa cinta yang seharusnya itu hanyalah cinta kepada Allah swt, dan tidak ada lagi yang pantas untuk dicintai selain Allah swt. Dalam puncak cinta, kata-kata kehilangan makna, cinta sejati adalah pengalaman langsung, sebuah keadaan batin yang dialami secara personal.
Seseorang yang telah mengenal dan mencintai Tuhannya, maka tentu ia akan bermuhasabah (introspeksi diri) atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini. Dia akan bertaubat dan berusaha mensucikan dirinya agar selalu bisa dicintai Allah. Karena jika Allah mencintai hambaNya, maka seluruh makhlukNya pun mencintainya.
Maka orang yang seperti inilah yang akan menjaga perilakunya dari keindahan dunia untuk menuju akhirat. Diapun akan lebih peduli dengan lingkungan sekitar.
Dengan konsep cinta (mahabbah) yang indah dan mudah diterima dalam kehidupan bermasyarakat, akan memunculkan kesadaran kehambaan yang memberikan pengertian bahwa dirinya hanyalah seorang makhluk yang harus tunduk kepada Tuhannya. Hal ini pula yang akan menimbulkan ketulusan kepada sang Ilahy.
Kesadaran kehambaan dan ketulusan cinta pada Tuhan akan mewujudkan ketulusan cinta kepada sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya. Tujuan Islam yang hakiki adalah rahmatan lil ‘alamin yakni melahirkan kemaslahatan bagi semesta alam.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Tuhan tidak memerhatikan bentuk bentuk fisik kamu, yang Tuhan perhatikan adalah hati kamu (Al Hadits).
Katakanlah:
“Jika kamu (benar benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (Ali Imran 31)
Katakanlah:
“Taatilah Allah dan RasulNya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang kafir”. (Ali Imran 32)
Ayat diatas menjelaskan bahwa mencintai Allah tidak cukup hanya sekedar pengucapan saja. Islam telah menjelaskan bahwa segala hal selalu memiliki keterkaitan dengan yang namanya peraturan. Peraturan yang tentunya memiliki alasan tersendiri yang telah ditentukan syariat agama Islam.
Hal ini membuktikan bahwa ketika seorang hamba selalu mentaati semua ajaran Nabi, sudah tentu hal itu berkemungkinan besar menuntun mereka kedalam pintu gerbang cinta yang hakiki.
Dari kisah ini juga kita belajar bahwa untuk bisa mendekati Allah swt tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi, atau ilmu yang sangat dalam. Salah satu cara utama untuk “mendekati” Allah swt adalah hati yang bersih dan tulus.
Wa Allah ‘alam bi al tsawab.
(Referensi: Konsep cinta dalam logika komunikasi transcendental: Wahyu Budiantoro; Menjawab yang terjawab, Menjelaskan yang tak terjelaskan: Sugeng Haranto (terj); Konsep mahabbah Rabiah Al Adawiyah: Kamaruddin Mustamin; Konsep mahabbah Imam Al Sautari: Yayan Maulana; Matahari diwan syams tabrizi terbang bersama cahaya cinta dalam duka cinta: Wawan Arif (ed); Road Allah: J. Rakhmat dan sumber lainnya)
Padat Karya Buntok, 3 Januari 2026
Min ikhwanikum al faqir;
Amrullah
PAIF KUA Kec Dusel
Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama Ke 80
Kutadah ridlamu sejawat, Ulun izin surut
Bagikan Halaman Ini