Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Barito Selatan



Diunggah tanggal 10-11-2025 18:34:32

Ibunda Sang Pahlawan oleh Amrullah





Dikutip dari Madjid : 88 89/1994. Kisah kepahlawanan yang amat mengharukan, sekaligus mengagumkan, terjadi pada seorang wanita sahabat Nabi SAW, Al Khans.

Saat itu adalah masa pemerintahan Umar, khalifah kedua, dan sedang terjadi kampanye untuk membebaskan Persia. Tanah Persia memang harus dibebaskan, karena saat itu berada ditengah penguasa penguasa feodal yang zalim dari dinasti Sasan, yang menguasai tanah tanah pertaniaan dan mengingkari hak para petani. Umar mengirimkan ekspedisinya, dan mulailah melakukan seruan untuk memobilisasi kekuatan rakyat.

Diantara yang datang ke Umar adalah seorang wanita, bernama Al Khans. Ia mempunyai empat orang anak lelaki, dan ia ingin ke empatempatnya maju dan dikirim ke Persia. Untuk melepas anak-anaknya itu, Al Khans memberi wejangan yang amat mengharukan seperti berikut : “Hai anak anaku, kamu menjadi Muslim dengan taat, dan kamu ikut hijrah dengan kemauan sendiri.”

Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, kamu berempat adalah anak seorang ayah, sebagaimana kamu juga anak seorang ibu. Aku tidak mengecilkan kehormatanmu, juga tidak merubah nasibmu. Ketahuilah olehmu bahwa kampung yang abadi adalah lebih baik dari kampung yang fana ini.

“Tabahlah kamu, tabahkan pula sesamamu, kuatlah solidaritasmu, dan bertaqwalah kepada Allah, semoga kamu memperoleh kemenangan. Jika kamu melihat perang telah menyingsingkan lengannya, dan api pertempuran telah membakar seluruh penjuru, usaplah wajahmu dengen debunya, terjang batu penyandungnya, nanti kamu akan menang dengan memperoleh rampasan dan kemuliaan, dikampung keabadian dan kehormatan.”

Esok paginya keempat pemuda itu pergi ke markasnya, kemudian dikirim kemedan pertempuran di Al Qadisiyyah. Mereka maju menerjang musuh dengan gagah berani, sambil mendendangkan pesan ibu mereka yang mengharukan itu, sampai akhirnya ke empatempatnya itu gugur sebagai pahlawan. Ketika kabar itu sampai ke Al Khans, ia terima dengan ketabahan luar biasa, bahkan kebanggaan yang tulus, dengan mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kehormatan dengan gugurnya anakanaku. Aku berharap kepada Tuhanku, bahwa Dia akan mempertemukan aku dengan mereka itu, ditempat kediaman penuh rahmatNya.”

Al Khans telah menjadi lambang ibu pahlawan. Ia bukannya sedih karena ke empat puteranya gugur sebagai syuhada, bahkan ia bangga dan bersyukur kepada Allah, karena berharap akan memenuhi perjumpaan yang bahagia dengan mereka kelak.

Dalam kitab suci, para pahlawan seperti Al Khans dan putera-puteranya dilukiskan sebaga: “orang-orang yang beriman yang jiwa dan hartanya telah dibeli Allah, demikian: Sesungguhnya Allah membeli dari kaum beriman jiwa dan harta mereka dengan (harga) bahwa bagi mereka ialah syurga. Mereka berjuang dijalan Allah, kemudian mereka membunuh atau terbunuh, suatu janji yang benar atas Dia dalam Taurat, injil dan Al Qur’an. Dan siapalah yang lebih menepati janji kepada Allah? Karena itu bergembiralah kamu semua dengan perjanjian yang kamu janjikan kepadaNya. Itulah kebahagiaan yang agung.” (QS.9:111)

Demikian itu yang dapat kita petik dari kisah kepahlawanan Islam dimasa lalu. Akan halnya ditanah air, varian deru perjuangan anak bangsa diberbagai daerah, demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari rezim penjajah tak kalah dahsatnya, hingga berpuncak pada tangga 10 November 1945 saat pertempuran Surabaya. Pertempuran di Kota Surabaya ini menjadi symbol perlawanan heroic rakyat Indonesia melawan bangsa penjajah. Dan demi menghormati jasa dan pengorbanan para pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan diseluruh pelosok tanah air, maka ditetapkanlah tangga 10 November sebagai hari pahlawan (Kepres 316/1959)

Pasca kemerdekaan, dimasa yang tenteram damai seperti sekarang ini, dan juga tentunya untuk masa yang akan datang, kehadiran pahlawan adalah sebuah niscaya, yakni mereka atau individu yang menjalankan tanggung jawabnya sebagai manusia dengan akal dan ilmu, serta berperan sebagai “khalifah” (wakil atau pemimpin) Allah dibumi untuk menegakan nilai nilai social, yang berkonstribusi pada perkembangan masyarakat madani yang ditopang oleh iman, ilmu dan teknologi, serta memiliki peradaban yang tinggi. Konsep pahlawan tidak hanya terbatas pada pejuang fisik, tetapi juga pada siapa saja yang yang berkonstribusi melalui ilmu, peradaban dan menjaga nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat modern. Wa Allah ‘alam

 

Oleh:

Drs. AMRULLAH M.Ag.
Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Dusun selatan



Opini Terbaru




Bagikan Halaman Ini