Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Anak

596..jpg.
Foto untuk : Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Karakter Anak

Oleh: Nuryadin*


Dalam konteks pendidikan kita mengenal tiga institusi atau lingkungan pendidikan yang memiliki peran dalam pembentukan karakter seorang anak yaitu keluarga (informal), sekolah (formal), dan masyarakat (nonformal).


Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama yang berpengaruh dan berperan besar dalam proses tumbuh kembang serta pembentukan karakter seorang anak, karena di dalam keluargalah anak menghabiskan sebagian besar waktunya.


Terlebih jika ditinjau dari sisi ilmu kejiwaan atau psikologi perkembangan, anak sejatinya tengah berada dalam fase emas tumbuh kembangnya. Sehingga membutuhkan bimbingan, arahan, dan contoh yang baik dari orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya, terutama dari keluarga.


Di sinilah posisi dan peran keluarga hadir tidak hanya sebagai penyedia tempat tinggal bagi seorang anak, namun juga menjadi wahana bagi anak agar dapat berkembang sesuai dengan potensinya. Dengan demikian keluarga memiliki fungsi dan peran krusial bagi seorang anak dalam pembentukan karakternya.


Fungsi dan Peran Keluarga
Dalam berbagai literatur yang berkaitan dengan fungsi keluarga, disebutkan bahwa keluarga tidak semata-mata menjadi ruang berkumpul dan tinggal bagi anak, akan tetapi memiliki beberapa fungsi dan peran lainnya.


Helmawati (2014) menyebutkan ada delapan fungsi yang dapat diperankan oleh keluarga, yakni fungsi agama, fungsi biologis, fungsi ekonomi, fungsi kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi pendidikan, fungsi sosialisasi anak, dan fungsi rekreasi. Berbagai fungsi tersebut menunjukkan betapa peran keluarga yang demikian besar dan penting bagi perkembangan anak, terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter.


Kedelapan fungsi tersebut saling terkait satu sama lain. Karenanya membutuhkan keterpaduan dalam mewujudkannya. Fungsi kasih sayang, pendidikan, agama, sosialisasi, dan rekreasi, misalnya, mempunyai andil yang tidak kecil dalam perkembangan karakter anak. Orangtua sebagai pendidik informal mesti memahami fungsi-fungsi tersebut.


Tugas dan tanggung jawab orangtua dalam pembentukan karakter hendaknya tidak dipahami dalam arti sempit, misalnya, hanya menyuruh anak belajar, taat pada orangtua, menyuruh untuk tidak nakal, dan sebagainya. Tetapi hendaknya ditekankan pada pengembangan potensinya secara optimal, sehingga karakter anak akan terbentuk sesuai perkembangan fisik dan psikisnya serta rohaninya tanpa paksaan ataupun intimidasi dari orang tua.


Strategi Penguatan Peran Keluarga
Keberhasilan pendidikan karakter pada anak lebih bergantung pada bagaimana kondisi dan peran yang dimainkan oleh keluarga. Seperti diulas secara singkat di atas, anak lebih banyak menghabiskan waktunya (masa perkembangan) di dalam rumah atau berada dalam lingkungan keluarga. Keluarga dalam hal ini dapat dipandang sebagai pilar utama keberhasilan pendidikan karakter.


Guna tercapainya pendidikan karakter pada anak, diperlukan berbagai langkah strategis yang mesti dicermati keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang utama.


Pertama, diperlukan keteladanan atau role model dari ayah ibu (orangtua) dalam rumah tangga. Keteladan memiliki pengaruh dalam proses pendidikan karakter dan memberikan warna dalam kehidupan anak. Anak selama masa pertumbuhan dan perkembangan lebih banyak menjadikan orang-orang di sekitarnya sebagai acuan dan teladan bersikap dan berperilaku. Jika orang tua ataupun anggota keluarga lain mampu menjadi teladan dan contoh yang baik, maka anak berpotensi menjadi seseorang yang memiliki karakter unggul.


Kedua, perlunya membangun pola interaksi yang harmonis di antara sesama anggota keluarga. Interaksi yang dibangun di atas landasan cinta, kasih sayang, pengertian, dan rasa percaya, akan membuat keluarga tetap berada dalam koridor keharmonisan meski diterpa masalah.


Ketiga, diperlukan pola komunikasi yang dialogis dan partisipatoris antara orangtua dan anak maupun dengan anggota keluarga lainnya. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang tidak hanya menjadi dominasi orangtua sebagai pihak yang benar dan mengabaikan pihak lain, dalam hal ini adalah anak, tetapi komunikasi yang mampu mendorong orang tua dan anak membangun kebersamaan.


Keempat, pendidikan karakter anak tentu tidak hanya menjadi domain keluarga. Diperlukan sinergi dan kerja sama yang intensif antara keluarga, sekolah (lembaga pendidikan), dan masyarakat. Kerja sama ketiganya menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter anak.


Pemerintah juga perlu memberikan pendampingan, dan menjadi fasilitator dalam pemberdayaan keluarga, yang tujuannya untuk meningkatkan kapasitas dan penguatan keluarga dalam pendidikan karakter anak.


*Pengajar IAIN Palangka Raya