Mencermati Dampak Hoax yang Merusak

592..jpg.
Foto untuk : Mencermati Dampak Hoax yang Merusak

Fenomena bertebarannya berita-berita bohong (hoax) di jagad maya benar-benar meresahkan publik. Tidak hanya membuat masyarakat menjadi resah dan risih namun juga membuat pemimpin dan para tokoh di republik ini gusar dan khawatir. Berita hoax layaknya sampah busuk yang memenuhi seantero media berbasis online.

Keberadaannya dapat mengaburkan fakta. Membuat yang benar dipandang keliru dan sesat. Sebaliknya yang salah dan jauh dari kebenaran justru dipandang sebagai sebuah realitas kebenaran. Alhasil ruang-ruang informasi publik kian absurd alias tidak masuk akal.

Karena itu kita membutuhkan suatu formula jitu agar hoax tidak berubah menjadi senjata mematikan yang dapat merusak dan menghancurkan tatanan dan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan umat yang telah terjalin dan terbina sejak lama.

Memahami Hoax dan Dampaknya

Hoax dapat dimaknai sebagai informasi, cerita atau berita bohong. Berita yang tidak berdasarkan data dan fakta bisa digolongkan sebagai hoax. Kebenarannya diragukan, termasuk asal usul maupun sumbernya.

Hoax berbeda dengan berita pers atau jurnalistik. Informasi dan berita jurnalistik diperoleh, diolah dan disampaikan berdasarkan prinsip-prinsip jurnalisme dengan data dan fakta yang jelas dan kredibel. Sementara hoax tidak demikian. Sehingga kita harus bisa membedakan mana berita atau informasi yang sebenarnya (valid) dan mana berita yang dikategorikan bohong dan palsu.

Informasi dan berita yang mengandung hoax umumnya disebar melalui platform media sosial, situs web maupun blog, baik yang dilakukan oleh individu (oknum) maupun anonym (tidak dikenal). Terkait konten, berita hoax dapat berisi ujaran kebencian (hate speech), fitnah, isu-isu provokatif, sentimen SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), dan pemutarbalikkan fakta. Bukan tak mungkin berita-berita bohong dengan konten di atas juga dimanfaatkan oleh kelompok radikal-ekstrem.

Jika dilihat dampak penyebaran berita-berita negatif di atas, hoax nyatanya lebih bersifat destruktif ketimbang sisi konstruktifnya. Ia lebih berbahaya dari virus yang kerap menyerang dan merusak sistem data-perangkat komputer maupun gawai penggunanya. Dampak destruktif hoax bisa merusak relasi, kohesi sosial, ikatan kewargaan, hubungan antar pemeluk agama dan antar agama, dan dapat memicu konflik kekerasan. Persatuan dan kesatuan yang telah lama terjalin bisa rapuh seketika akibat berita hoax yang merusak.

Berita hoax yang selalu dikonsumsi akan membuat umat dengan mudah digiring,  difitnah bahkan diadu domba dengan berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terlebih di era digital masa kini, suatu berita, entah itu benar atau tidak dengan mudah tersebar dan sampai ke banyak orang secara cepat dan viral.

Pentingnya Literasi Media

Hoax tentu menjadi batu sandungan sekaligus ujian yang membuat kita harus berpikir secara jernih dan kembali mengasah kepekaan nurani. Hoax yang merusak itu harus dibasmi tuntas dengan berbagai cara dan upaya. Meski itu bukan perkaran mudah.

Dalam ajaran agama berita bohong mesti ditangkal dan diluruskan. Jika menengok perjalanan historis umat, sebenarnya berita hoax bukan hal baru. Sejak awal kenabian (nubuwah), hadis (perkataan, tindakan, dan ketetapan Nabi saw.) juga tak luput dari pemalsuan oleh pihak dan kelompok yang ingin mendiskreditkan ajarannya.

Bila ditelusuri dalam ajaran agama terdapat suatu pesan penting dalam menerima sebuah informasi. Hendaknya setiap berita/informasi tidak begitu saja diterima. Upaya klarifikasi (tabayyun) atau pemeriksaan mutlak diutamakan. Tujuannya tak lain agar berita yang sampai, didengar atau masuk ke seseorang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan (lihat al-Hujurat: 6).

Selain upaya klarifikasi, penting juga untuk mengedepankan pemeriksaan silang (cross check). Cross check berfungsi memastikan kebenaran suatu berita dengan menelusurinya dari berbagai sumber yang diakui kebenarannya. Tujuannya agar tidak menimbulkan kerugian fisik dan nonfisik. 

Tidak sedikit terjadi keretakan sosial, munculnya konflik atau peristiwa memilukan akibat tidak cermatnya seseorang dalam menerima informasi sehingga berujung pada hal-hal yang merugikan umat.

Dalam konteks ini literasi media-digital menemukan arti pentingnya. Geliat dan literasi media guna menangkal dan melawan hoax mesti digelorakan para pemimpin, pemangku kebijakan, tokoh bangsa, pegiat media, pemuka agama dan segenap lapisan masyarakat. Inilah tanggung jawab dan beban moral yang kita emban dalam membasmi hoax.

Media-media arus utama (mainstream) punya peran krusial dalam mengembalikan kepercayaan publik melalui sajian berita dan informasi berimbang, kritis dan berpihak pada visi kerakyatan.

Di sisi lain edukasi pentingnya pemanfaatan internet dan media online yang sehat dan positif harus diintensifkan agar masyarakat pengguna semakin paham dan cermat serta melek. Sehingga tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain, baik secara agama, hukum, moral sosial, dan nurani kemanusiaan.

Lembaga pendidikan, pegiat, komunitas masyarakat dan keluarga mesti berperan dan proaktif mengedukasi peserta didik, anggota masyarakat dan keluarga dalam menggunakan internet.

Media berbasis jejaring internet harus diarahkan pada jalan dakwah, seruan, ajakan yang santun dan bijak serta diupayakan pada dorongan untuk mengentaskan ragam problem yang menyangkut keumatan, kebangsan dan kemanusiaan seperti problem kemiskinan, radikalisme-terorisme, korupsi, pendidikan, kesehatan, layanan publik, kesenjangan sosial, kriminalitas, kenakalan remaja, dan beragam problem lain.

Nah, produk teknologi yang bernama internet itu tidak harus dinafikan, tapi harus digunakan sebagai media pemberdayaan umat. Jadilah generasi produktif dan netizen transformatif dengan memanfaatkan internet di jalan kebenaran dan menghindari hoax. Bukankah lebih indah bila kita hidup dalam kedamaian dan ketenangan tanpa kekhawatiran akan kerusakan karena hoax yang merusak?

Nuryadin

Pengajar IAIN Palangka Raya