Jumat, 9 Desember 2016, 10:02

Budaya Puji-pujian dalam Perspektif Komunikasi

Oleh: Gondo Utomo

Pendahuluan

Sejarah panjang agama Islam di nusantara telah dimulai sejak ribuan tahun lalu, sejak agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW ini masuk dan diperkenalkan di sejumlah wilayah di Indonesia. Terdapat beberapa pendapat yang menyebutkan asal muasal penyebaran agama Islam hingga kemudian masuk ke nusantara.

Teori tentang asal muasal penyebaran ajaran agama Islam salah satunya menyebutkan bahwa penyebarannya terjadi pada abad ke -13, tempat asalnya Gujarat, dan pelakunya pedagang India yang telah memeluk agama Islam. Kemudian terdapat pula teori yang menyatakan waktu penyebarannya terjadi pada abad ke-7, asalnya dari Gujarat dan Timur Tengah (Mesir/Makkah), pelakunya pedagang Arab Islam. Dan teori yang terakhir menyatakan bahwa Islam berasal dari Persia pada sekitar abad ke-13. Namun pada akhirnya sebagian tokoh Islam Indonesia sependapat bahwa Islam di nusantara berasal dari Arab dan diperkenalkan pada abad ke-7 masehi untuk kemudian berkembang pesat salah satunya seperti yang ditunjukkan pada abad ke-13 masehi.

Tokoh yang mengungkap bahwa penyebaran Islam berasal dari Gujarat salah satunya adalah Pijnappel dari Universitas Leiden. Dia mengaitkan keberadaan Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar, dimana muslim Arab yang bermadzhab Syafii berimigrasi dan menetap di wilayah India, kemudian orang-orang India yang membawa Islam ke nusantara. Saat itu, hubungan dagang antara India Indonesia telah terjalin.

Kemudian, terdapat pula pendapat dari sarjana Belanda lainnya, Moquette. Moquette mendasarkan pendapatnya pada peninggalan artefak batu nisan di Pasai, kawasan utara Sumatera, terutama yang bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H atau 27 September 1428 M. Batu nisan itu menurut Moquette mirip dengan batu nisan lain yang ditemukan di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Kedua jenis batu nisan itu memiliki bentuk yang sama dengan batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat, India. Moquette lantas berkesimpulan bahwa batu nisan di Gujarat juga diimpor ke kawasan lain, termasuk Sumatera dan Jawa. Dengan mengimpor batu nisan dari Gujarat, orang-orang nusantara juga berinteraksi dengan orang India terkait agama Islam dari sana.

Pada teori lain disebutkan bahwa Islam di nusantara disebarluaskan dari Gujarat atau Mekah pada abad ke-7 masehi. Menurut Hamka, Islam di Indonesia berasal dari Mekah pada abad ke-7 masehi atau abad pertama hijriyah. Pendapat itu didasarkan bahwa sebenarnya pada abad ke-13 masehi, di Indonesia sudah berdiri politik Islam sehingga Hamka mengutarakan bahwa Islam sudah masuk di Indonesia jauh sebelum abad ke-13 masehi. Bila dihubungkan dengan penjelasan dari sebuah studi kepustakaan Arab kuno, disebutkan Al Hind sebagai India atau pulau-pulau Cina, sehingga besar kemungkinan bangsa Arab telah masuk ke Indonesia sejak abad ke-2 masehi.

Masih dalam kaitan pada teori ini, pendapat berbeda dikatakan Van Leur. Dia mengatakan, Islam masuk ke Indonesia bukan abad ke-13 tetapi abad ke-7, sedangkan abad ke-13 merupakan perkembangan Islam di Indonesia. Asal penyebarannya dari Gujarat karena bangsa Arab terlebih dahulu memperkenalkan Islam di India. Kemudian, pedagang Gujarat itu lantas membawa ajaran agama Islam ke nusantara.

Kemudian, terdapat pula teori yang menyebutkan bahwa Islam di Indonesia diperkenalkan oleh orang Persia. Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia. Salah satu pencetus teori Persia adalah PA. Hoesin Djajadiningrat, yang berpendapat bahwa Islam di Indonesia masuk dari Persia, singgah di Gujarat, dan diperkenalkan ke nusantara.

Dalam proses masuk dan berkembangnya agama Islam di nusantara, terjadi interaksi antara agama Islam dengan budaya lokal. Budaya merupakan hasil olah pikiran dan kreatifitas manusia. Dengan kreatifitas umat Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu bisa berkembang, mewarnai, dan menjadi nafas dalam berbagai budaya lokal di berbagai belahan nusantara.

Dalam tataran di lapangan, nilai Islami menyusup, mengispirasi, atau bahkan menarik budaya lokalmenjadi sebuah budaya baru atau diperbarui yang semakin kaya. Nilai Islami juga menyaring budaya agar sesuai dengan ajaran agama. Islam bukan hanya cocok diterima orang nusantara, tetapi juga mewarnai budaya di berbagai belahan daerah di nusantara. Islam kemudian menunjukkan sifat akomodatifnya dalam berbagai budaya yang lantas muncul dan berkembang dalam kehidupan masyarakat lokal.

Islam di nusantara sedari awal diperkenalkan menggunakan budaya. Islam masuk ke Indonesia ketika kebudayaan sudah ada, dan ketika agama lain serta berbagai kepercayaan masyarakat telah ada. Salah satu strategi para wali di waktu itu tidak menghilangkan budaya yang sudah ada, tapi menjadikan budaya itu sebagai sarana mengajak masyarakat saat itu untuk memeluk agama Islam. Pola komunikasi dakwah Walisongo ini bukan dalam bentuk komunikasi mengajak, namun dalam bentuk mengkomunikasikan kebudayaan baru dengan memerankan tradisi lama yang telah berlangsung di Nusantara.

Walisongo melihat, selama budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam maka budaya tidak menjadi persoalan bagi Islam. Hingga akhirnya sampai saat ini, Islam di berbagai daerah cenderung akrab dan berjalan beriringan dengan berbagai budaya lokal. Akulturasi yang terjadi sekian lama membuat tidak ada bedanya antara Islam dan Indonesia, sejarah Indonesia adalah juga sejarah Islam dan kebudayaan Indonesia juga kebudayaan Islam, dan karena dalam ruang sosial-budaya yang memungkinkan perbedaan tradisi agama khususnya dapat dipertemukan secara unik dan apik.

Salah satu budaya lokal yang kemudian muncul dalam kehidupan keagamaan Islam di masyarakat, utamanya di desa Karangsari kecamatan Karangmoncol kabupaten Purbalingga Jawa Tengah adalah puji-pujian. Dari asal katanya, pujian berarti sanjungan, dalam hal ini berarti sanjungan seorang hamba kepada Allah SWT. Puji-pujian lantas muncul sebagai sebuah istilah tersendiri di kalangan warga Nahdliyyin yang biasanya dilakukan setelah adzan dan sebelum shalat berjamaah dilaksanakan. Puji-pujian adalah lantunan shalawat, dzikir dan syair sebelum pelaksanaan shalat berjama'ah. Biasanya, puji-pujian dilantunkan oleh muadzin bersama-sama dengan jamaah shalat, sembari menunggu datangnya imam dan jamaah lainnya.

Syaikh Ismail Az-Zain menjelaskan adanya kebolehan melantunkan syair yang berisi puji-pujian, nasihat, pelajaran tata krama dan ilmu yang bermanfaat di dalam masjid. Melantunkan syair puji-pujian juga dapat dikategorikan sebagai dzikir. Seperti yang dikatakan Al-Ghozali, dzikrulloh berarti ingatnya seseorang bahwa Allah mengamati seluruh tindakan dan pikiranya. Sehingga dzikir tidak bermakna sempit hanya melafalkan lafal jalalah atau lafal lainya meskipun sama-sama membutuhkan kehadiran-hudlurnya hati.

Dari sisi syiar dan penanaman akidah umat, puji-pujian merupakan strategi sangat jitu untuk menyebarkan dan mengkomunikasikan nilai ajaran Islam kepada masyarakat, karena di dalamnya terkandung beberapa pujian kepada Allah SWT, dzikir dan nasihat. Kemudian, dari aspek psikologis, lantunan syair yang indah itu dapat menambah semangat dan mengkondisikan suasana. Dalam hal ini, tradisi yang telah berjalan di masyarakat tersebut dapat menjadi semacam persiapan sebelum masuk ke tujuan inti, yakni shalat lima waktu. Manfaat lain adalah untuk mengobati rasa jemu sembari menunggu waktu shalat berjamaah dilaksanakan, juga agar para jamaah tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu ketika menunggu shalat jama'ah dilaksanakan.

Apabila dikaitkan dengan hal lain, puji-pujian yang diantaranya berupa shalawat nabi merupakan bentuk pengejawantahan dari menjalankan perintah Allah SWT sebagaimana termaktub di dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 56. Dalam surah tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk bershalawat dan memberi salam kepada Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, demikian juga para malaikat, ikut juga bershalawat kepada beliau. Maka Allah SWT pun memerintahkan umat Islam untuk banyak-banyak menyampaikan shalawat kepada nabi dan rasul termulia itu. Puji-pujian sebagai sebuah budaya Islami lokal sangat menarik untuk dikaji dalam perspektif.

Komunikasi dalam Perspektif Islam

Islam sebagai agama terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW memiliki ajaran yang sedemikian lengkap. Seluruh aspek kehidupan manusia diatur dalam syariat agama, baik di dalam Al Quran maupun sunnah. Misalnya di dalam Al Quran surah Al Hajj ayat 30, Allah SWT berfirman yang artinya Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. Perintah ini secara tegas melarang umat Islam untuk mempercakapkan sesuatu yang dusta dalam seluruh aspeknya, dusta dari segi isi, maupun dusta dari segi metode penyampaiannya.

Selain menyampaikan sesuatu dengan jujur, Islam juga mengatur umatnya untuk menyampaikan sesuatu dengan cara-cara yang baik. Hal itu sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 83. Kemudian, Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka (H.R. Muslim).

Dari sedikit kutipan ayat dan hadits tersebut sangat jelas tergambar bahwa Islam menginginkan umatnya agar berkomunikasi dengan cara yang baik, melalui pembahasaan yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh lawan bicara, menyampaikan segala sesuatu dengan jujur, santun, dan tidak menyakiti perasaan lawan bicara. Dalam konteks ini, seluruh syair puji-pujian ada di desa Karangsari juga mencerminkan hal tersebut. Puji-pujian yang telah ada sejak lama itu menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami, mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang bersumberkan pada Al Quran dan sunnah, tidak menyinggung perasaan golongan tertentu, serta terdiri dari komposisi bahasa yang enak didengar dan penuh dengan perasaan mengagungkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dalam sisi lain, umat Islam juga menjalin komunikasi dengan Allah SWT melalui ibadah shalat yang dilaksanakannya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah menerangkan yang artinya, "Bahwa Aku membagi shalat menjadi dua bagian, bagian-Ku dan bagian lain untuk hamba-Ku sesuai dengan apa yang dimintanya. Apabila ia membaca Al hamdulilla>hirabbi al a>lami>n dalam shalat, Allah menjawab: Hamba-Ku telah memuji-Ku, Apabila ia membaca al Rahma>nirrahi>m, Allah menjawab: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku, Apabila ia membaca Ma>likiyaum al di>n, Allah menjawab: Hamba Ku telah memulian-Ku dan kali lain Allah berkata: Hamba-Ku telah menyerahkan segala urusannya kepada-Ku, Apabila ia membaca Iyya>ka nabudu wa iyya>ka nastain, Allah menjawab: Ini perjanjian antara Aku dengan hamba-Ku dan aku akan mengabulkan apa saja yang diminta hamba-Ku, Apabila ia membaca Ihdina al shirath al mustaqi>m shirath al lazi>na anamta alaihin ghoir al maghd}u>bi alaihim wala al dha>llin, maka Allah menjawab: Ini adalah hamba-Ku dan Aku akan mengabulkan apa yang diminta hamba-Ku.

Budaya Puji-pujian dalam Perspektif Komunikasi

Di desa Karangsari, terdapat banyak macam puji-pujian yang biasa dilantunkan di masjid-masjid. Dari banyak macam itu, salah satu contoh puji-pujian adalah di bawah ini.

Fajar siddiq, aja turu ning wektu subuh, turune sewenang-wenang. Ana geni mulad-mulad, genine saking neraka jahim.

Artinya:

Fajar siddiq (waktu untuk menunaikan shalat Subuh atau dimulainya puasa), jangan tidur di waktu subuh, tidurnya dengan seenaknya. Ada api membara, api dari neraka jahanam.

Kemudian contoh lain adalah sebagai berikut:

La> h}aula wala quwwata illa>

La> h}aula wala quwwata illa>

Illa> billahil aliyyil adzim

Illa> billahil aliyyil adzim

Mboten wonten doyo lan mboten kiyat

Mboten wonten doyo lan mboten kiyat

Kejawi angsal pitulunge Allah

Kejawi angsal pitulunge Allah

Artinya:

La> h}aula wala quwwata illa>

La> h}aula wala quwwata illa>

Illa> billahil aliyyil adzim

Illa> billahil aliyyil adzim

Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan

Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan

Kecuali mendapatkan pertolongan Allah

Kecuali mendapatkan pertolongan Allah

Dalam perspektif komunikasi, puji-pujian merupakan sebagai sebuah bentuk komunikasi antara muadzin atau pelantun syair sebagai komunikator, dan jamaah atau masyarakat pendengar sebagai komunikan. Secara sederhana, komunikasi merupakan pemindahan informasi, sehingga melalui komunikasi, manusia dapat berbagi pengalaman secara tidak langsung maupun memahami pengalaman orang lain. Itu artinya, puji-pujian merupakan sarana untuk memindahkan informasi dari pelantun puji-pujian kepada jamaah shalat atau warga masyarakat di sekitar masjid dan langgar.

Puji-pujian bisa dikategorikan sebagai pesan verbal, karena ia merupakan komunikasi lisan yang menggunakan satu kata atau lebih. Ciri lain dari pesan verbal adalah proses komunikasinya dilakukan secara sengaja untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Setiap kata dalam syair puji-pujian, semisal yang dicontohkan di atas, memiliki makna yang bisa jadi sama antara pelantun syair dengan pendengarnya, atau bisa pula berbeda di antara keduanya.

Pada sebuah pesan, setidaknya terdapat tiga unsur, yakni struktur pesan, proses penyampaian pesan, dan bagaimana pesan diinterpretasikan. Ketiga unsur itu terdapat pula dalam syair puji-pujian yang menjadi bagian dari budaya masyarakat muslim di desa Karangsari.

Struktur pesan

Menurut semiotika bahasa, salah satunya dalam teori yang dikatakan oleh Ferdinand de Saussure, disebutkan bahwa bahasa merupakan sistem yang terstruktur yang menggambarkan kenyataan. Dalam hal ini misalnya diambil contoh syair tentang ketiadaan daya manusia tanpa adanya pertolongan Allah SWT. Hal itu jelas menggambarkan bahwa realitanya manusia tidak akan mampu bertindak apapun tanpa mendapatkan pertolongan Allah dalam berbagai bentuknya. Pertolongan itu semisal dalam bentuk kemampuan intelektual, kemampuan emosional, maupun bentuk pertolongan Allah lain seperti kesehatan dan kekuatan fisik.

Bahasa merupakan suku kata yang diartikulasikan atau diucapkan melalui mulut agar terdengar dengan jelas, baik, dan benar oleh pendengarnya. Agar pesan yang disampaikan melalui puji-pujian terdengar jelas dan dipahami dengan jelas oleh jamaah, maka syair tersebut harus diucapkan dengan baik dan benar. Hal itu karena syair puji-pujian tidak hanya memiliki makna bagi individu, namun juga memiliki makna bagi masyarakat sosial.

Selain itu, dalam perspektif komunikasi pula, syair puji-pujian memungkinkan perubahan seiring terjadinya interaksi sesama individu. Perubahan yang jelas terjadi adalah perubahan macam syair puji-pujian yang dilantunkan saat menjelang shalat. Misalnya shalawat Nabi cenderung akan digunakan saat shalat Dhuhur dan Isya, sedangkan masyarakat desa Karangsari memilih syair puji-pujian tentang tauhid atau keimanan saat shalat Maghrib atau shalat Subuh. Pemilihan syair dengan tata bahasa tertentu itu yang kemudian disebut Noam Chomsky sebagai tata bahasa generatif.

Penyampaian pesan

Apabila ditinjau dari aspek komunikasi lainnya, puji-pujian juga bisa dikaji dari sisi penyampaian pesan. Sisi ini akan melihat bagaimana seorang muadzin atau pelantun pesan selaku komunikator melakukan pengaturan dan pemilihan isi pesan puji-pujian yang akan dilantunkannya. Salah satu teori komunikasi, compliance-gaining theory atau teori mendapatkan kepatuhan yang diungkapkan Gerald Marwell dan David Schmitt berpendapat bahwa salah satu tujuan utama komunikasi adalah menciptakan kepatuhan orang lain.

Marwel dan Schmitt dalam Litllejohn berpendapat bahwa orang akan terdorong untuk melakukan sesuatu seperti yang diinginkan oleh komunikator melalui pesan yang disampaikannya karena di dalam pesan tersebut mengandung beberapa hal. Misalnya karena ada reward, adanya ancaman, atau adanya komitmen impersonal yang melibatkan nilai-nilai moral. Dalam hal ini, unsur reward pada puji-pujian biasanya diwujudkan dalam bentuk penggambaran surga bagi siapapun yang taat beribadah, adanya ancaman sanksi berupa neraka bagi umat Islam yang ingkar kepada perintah Allah.

Selain dilihat dari sisi teksnya, puji-pujian bisa juga ditilik dari sisi konteksnya. Dalam hal ini, puji-pujian ingin meningkatkan kesadaran umat Islam untuk beribadah, menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta berbagai kandungan konteks puji-pujian lainnya. Itu pula yang membuat puji-pujian muncul dan berkembang dalam berbagai bentuk yang memungkinkan penggunaannya disesuaikan dengan konteks puji-pujian itu sendiri.

Konteks suasana shalat Subuh dimana seseorang masih terlelap dalam tidurnya, mendorong munculnya puji-pujian yang menggugah seseorang untuk segera bangun dan menunaikan ibadah shalat. Tentu akan berbeda manakala puji-pujian serupa dilantunkan saat menjelang shalat Dhuhur, dimana konteks pelantunannya sudah tidak tepat lagi dan akan terdengar aneh di telinga masyarakat apabila dipaksakan untuk dilantunkan.

Penafsiran pesan

Pesan yang disampaikan melalui puji-pujian akan ditafsirkan oleh siapapun yang mendengarkannya. Dalam pandangan ilmu komunikasi, penafsiran atau interpretasi pesan merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan secara berhati-hati untuk mendapatkan pemahaman. Meski begitu, penafsiran setiap orang pada satu pesan yang sama dimungkinkan akan berbeda-beda. Itu artinya, tindakan orang setelah mendengarkan pesan tersebut juga akan berbeda-beda.

Sebagai kemungkinannya adalah, setelah mendengarkan puji-pujian, akan ada orang yang lantas bergegas ke masjid karena merasa terdorong untuk melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Namun, karena menafsirkan berbeda, maka mungkin juga akan ada orang yang tetap memilih untuk shalat sendiri di rumah atau malah tidak shalat sama sekali meskipun setiap hari mendengarkan lantunan puji-pujian dari masjid atau mushalla.

Apabila ditelaah lebih jauh, maka kemungkinan penyebab seseorang tidak tergerak melakukan sesuatu sebagaimana terkandung di dalam pesan puji-pujian bisa jadi tidak hanya karena isi pesan itu sendiri. Akan ada banyak faktor yang mendasari dilakukan atau tidak dilakukannya sebuah tindakan meskipun telah mendapatkan dorongan dari puji-pujian.

Menurut teori hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer, pemaknaan atas sebuah pesan harus dilakukan melalui interaksi sosial. Atau dalam kata lain, pemaknaan atas puji-pujian sebaiknya dilakukan dalam sebuah percakapan antarpribadi yang melibatkan pertukaran informasi dan pengalaman secara lebih intensif sehingga akan muncul pemaknaan yang sama antara komunikator dengan jamaah atau komunikan, sehingga kemudian jamaah akan melakukan tindakan yang sama dengan yang diinginkan puji-pujian tersebut. Dalam sudut pandang ini, komunikasi antarpribadi menekankan pentingnya proses yang berkelanjutan, saling mengirim, menerima, dan beradaptasi atas pesan verbal dan nonverbal dengan orang lain untuk membuat dan mengubah gambar di kedua pikiran orang yang terlibat komunikasi tersebut.

Simpulan

Selama Islam masuk dan disebarluaskan di nusantara telah menjalani berbagai proses interaksi dengan budaya lokal, hingga kemudian memunculkan berbagai budaya atau tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat namun dengan tetap mengandung nilai-nilai Islami. Interaksi antara Islam dan budaya itu telah berjalan sedemikian lama dan harmonis, sehingga kemudian salah satunya melahirkan budaya puji-pujian di kalangan masyarakat. Puji-pujian yang berupa lantunan sanjungan atas kebesaran Allah SWT, syair shalawat bagi Nabi Muhammad SAW, atau syair lain dilantunkan menjelang pelaksanaan shalat fardhu di masjid atau mushalla. Di dalamnya mengandung berbagai ajaran, nilai dan pesan merupakan bentuk komunikasi. Isi puji-pujian menurut perspektif komunikasi bisa mendorong seseorang untuk mengerjakan sesuatu. Puji-pujian merupakan salah satu budaya Islam lokal yang dijadikan sebagai penyampai pesan kepada umat Islam agar melaksanakan shalat berjamaah, beribadah, atau berbagai dorongan keagamaan dan kemasyarakatan lainnya. (*)

(Penulis adalah staf pada Subbagian Informasi dan Humas Kanwil Kemenag Kalimantan Tengah, sedang menyelesaikan studi S2 Ilmu Komunikasi di UNS Surakarta)

Referensi

Al Quran dan Terjemahnya. 2016. Jakarta: CV. Darus Sunnah

Carr, Caleb T., Hayes, Rebecca A. 2014. The Effect of Disclosure of Third-Party Influence on an Opinion Leaders Credibility and Electronic Word of Mouth in Two-Step Flow dalam Journal of Interactive Advertising edisi Vol. 14 No. 1.

Chalik, Abdul. 2016. Agama Dan Politik Dalam Tradisi Perayaan Rebo Wekasan dalam Jurnal Ibda edisi Vol. 14 No. 1, Januari Juni 2016.

Departemen Agama Republik Indonesia. 1992. Al Quran dan Terjemahnya. Semarang: CV. Asy Syifa.

De Saussure, Ferdinand. 2007. The Object of Linguistic dalam Theorizing Communication Reading Accros Tradition (ed. Robert T. Craig & Heidi L. Muller). California: Sage Publication Inc.

Hartini, Dwi. 2000. Masuknya Pengaruh Islam di Indonesia. Jakarta: Pustaka Setia.

Hidayatullah, Muhammad Syarif. 2013. Teori-teori Masuknya Islam ke Wilayah Timur Indonesia, Jurnal Ilmiah Non Seminar. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Ismail, Muchammad. 2013. Strategi Kebudayaan: Penyebaran Islam di Jawa dalam Jurnal Ibda edisi Vol. 11 No. 1, Januari Juni 2013.

Littlejohn, Stephen W., Foss, Karen A. 2011. Theories of Humman Communication. Illinois: Waveland Press, Inc.

Lubis, Muhammad Ridwan. 2015. Melacak Akar Paham Teologi Islam di Indonesia, dalam Jurnal Harmoni edisi Vol. 14 No. 2, Mei-Agustus 2015.

Mawardi, Kholid. 2013. Seni Sebagai Ekspresi Profetik dalam Jurnal Ibda edisi Vol. 11 No. 2, Juli Desember 2013.

Muqoyyidin, Andik Wahyun. 2013. Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa dalam Jurnal Ibda edisi Vol. 11 No. 1, Januari Juni 2013.

Nurhadi, Zikri Fachrul. 2015. Teori-Teori Komunikasi Dalam Perspektif Penelitian Kualitatif. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Purwanto, Edy. 2010. Puji-pujian Menjelang Shalat Berjamaah dari https://jendelapemikiran.wordpress.com/2010/10/04/puji-pujian-menjelang-shalat-jamaah/ diakses pada 19 Juni 2016.

Sahfutra, Surya Adi. 2012. Pendekatan Budaya dalam Harmonisasi Relasi Muslim dan Non Muslim dalam Jurnal Ibda edisi Vol. 10 No. 2, Juli Desember 2012.

Siradj, Said Aqil. 2014. Islam Kalap dan Islam Karib. Jakarta: Daulat Press.

Tajuddin, Yuliatun. 2014. Walisongo dalam Strategi Komunikasi Dakwah dalam Jurnal Addin edisi Vol. 8 No. 2, Agustus 2014.

Tubbs, Stewart T., Moss, Sylvia. 2009. Human Communication (terj. Deddy Mulyana). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wafiq, Ilzamul. 2011. Seribu Bait Pujian Syair Wali Tanah Jawa. Yogyakarta: Assalafiyah Press.

Berita Lainnya
Kamis, 9 Februari 2017, 15:39

Lebih Dekat Melayani Umat, Kemenag Buka Pelayanan Terpadu Satu Pintu

Jumat, 16 Desember 2016, 15:54

Sebuah Gerakkan Nasional Bernama Sapu Bersih Pungutan Liar

Kamis, 22 September 2016, 20:54

Sholat Jum'at